WANITA YANG GATAL


 

Nama yang Menempel

Lampu4d.Di kampung kecil itu, nama bisa lebih cepat menyebar daripada angin sore. Dan bagi Aruna, satu julukan sudah cukup untuk mengubah hidupnya: wanita yang gatal.

Semua bermula dari caranya tertawa yang lepas. Dari kebiasaannya menatap mata lawan bicara terlalu lama. Dari keberaniannya memakai lipstik merah di pagi hari ketika perempuan lain memilih warna lembut agar tak jadi bahan omongan.

“Perempuan kok genit sekali.”

“Gatal itu, lihat saja caranya bicara sama laki-laki.”

Aruna mendengar semuanya. Ia tidak tuli. Ia hanya memilih diam.

Padahal tak seorang pun benar-benar tahu isi kepalanya.

Aruna bekerja di perpustakaan kota. Setiap hari ia menyusun buku-buku, menghirup aroma kertas lama, dan tersenyum pada siapa pun yang datang. Ia suka berbicara. Suka bertanya. Suka membuat orang merasa diperhatikan.

Ia memang mudah akrab dengan siapa saja—termasuk para pria yang sering datang membaca koran atau meminjam novel.

Baginya, berbicara adalah cara untuk hidup.
Bagi orang lain, itu alasan untuk menghakimi.

Ibunya pernah berkata dengan suara pelan, “Nak, perempuan itu harus tahu batas.”

Aruna tersenyum. “Batas siapa, Bu?”

Pertanyaan itu tak pernah benar-benar dijawab.

Raka

Login Lampu4d.Raka datang pada suatu sore berangin. Ia bukan tipe pria yang banyak bicara. Datang, memilih buku, duduk di sudut, membaca dengan tenang.

Aruna yang pertama kali menyapanya.

“Kalau suka sejarah, rak paling atas lebih lengkap,” katanya sambil menunjuk.

Raka mengangguk singkat. Tapi keesokan harinya, ia kembali. Dan hari berikutnya. Hingga akhirnya, mereka mulai berbicara—tentang buku, tentang kota kecil yang terasa sempit, tentang mimpi yang terlalu besar untuk ukuran tempat itu.

Tidak ada sentuhan. Tidak ada kata-kata berlebihan.
Hanya percakapan yang jujur.

Namun mata-mata di luar selalu siap menafsirkan.

Tak butuh waktu lama hingga cerita beredar.

“Aruna dekat sama pria baru itu.”

“Memang dasar perempuan gatal.”

Kata itu kembali menempel seperti noda.

Suatu hari, Aruna mendengar dua perempuan membicarakannya di depan perpustakaan. Ia berdiri di balik pintu, mendengar namanya diputar seperti gosip murahan.

Dadanya sesak. Bukan karena malu. Tapi karena lelah.

Lelah dinilai dari caranya tersenyum.
Lelah dianggap murahan hanya karena ia berani menjadi dirinya sendiri.

Pengakuan

Rtp Lampu4d.Suatu sore, Raka berkata, “Kenapa kamu tetap ramah pada orang-orang yang jelas tidak menyukaimu?”

Aruna terdiam lama. Lalu menjawab pelan.

“Karena kalau aku berhenti jadi diriku hanya karena mereka, berarti mereka menang.”

Raka menatapnya berbeda hari itu. Bukan dengan curiga. Bukan dengan nafsu. Tapi dengan hormat.

“Kalau begitu,” katanya, “biarkan aku jadi orang yang melihatmu apa adanya.”

Itu pertama kalinya Aruna merasa tidak perlu menjelaskan dirinya.

Makna Gatal

Link Lampu4d.Malam itu, Aruna duduk di kamar, menatap cermin.

“Wanita yang gatal,” gumamnya.

Ia tersenyum tipis.

Kalau gatal berarti ia tak bisa diam melihat dunia tanpa ikut terlibat, maka iya.

Kalau gatal berarti ia ingin merasakan cinta tanpa takut dicap buruk, maka iya.

Kalau gatal berarti ia berani tertawa keras di dunia yang menyuruh perempuan untuk mengecil, maka iya.

Ia akan menerima julukan itu—dengan definisinya sendiri.

Beberapa bulan kemudian, Aruna dan Raka berjalan berdampingan di tengah pasar pagi. Tatapan orang-orang masih ada. Bisik-bisik belum hilang.

Namun kali ini, Aruna tidak menunduk.

Raka menggenggam tangannya—bukan untuk menunjukkan kepemilikan, tapi untuk memberi keberanian.

Dan untuk pertama kalinya, Aruna sadar:

Yang membuat orang resah bukan karena ia “gatal”.
Melainkan karena ia bebas.

Di kota kecil itu, orang-orang mungkin masih menyebutnya begitu.

Tapi bagi dirinya sendiri, Aruna bukan wanita yang gatal.

Ia adalah wanita yang hidup.
Wanita yang merasa.
Wanita yang memilih untuk tidak mengecil demi kenyamanan orang lain.

Dan jika itu membuatnya berbeda, maka ia siap.

Karena lebih baik menjadi perempuan yang dicap terlalu berani,
daripada hidup sebagai bayangan yang tak pernah benar-benar ada.


Baca Juga :

untuk cerita lain nya bisa langsung di klik ya 


Komentar