Niat yang Setengah Hati
Lampu4d.Namanya Cinta. Siswi kelas sebelas yang dikenal manis, cerewet, dan… sedikit pemalas.
Malam sebelum Ramadan, Cinta sudah memasang alarm untuk sahur. Bahkan ia menulis status panjang di media sosial tentang niatnya menjadi pribadi yang lebih baik.
“Ramadan tahun ini harus full puasa, full ibadah, no bolong!” tulisnya penuh semangat.
Namun semangat itu hanya bertahan sampai jam 03.30 pagi.
Alarm berbunyi.
Cinta membuka satu mata.
“Lima menit lagi…” gumamnya.
Alarm kedua berbunyi.
“Masih ngantuk banget…”
Alarm ketiga berbunyi.
Ia mematikan ponselnya.
Dan tertidur lagi.
Cinta bangun pukul 09.15.
Ia terduduk kaget. “YA AMPUN! SAHUR!”
Ia berlari ke dapur. Sepi. Piring sudah dicuci. Ibunya menatapnya dengan ekspresi campur aduk antara lucu dan kesal.
“Kamu nggak bangun-bangun, Nak. Mama udah bangunin tiga kali.”
Cinta menelan ludah.
Perutnya belum lapar, tapi hatinya mulai gelisah.
“Kalau nggak sahur… masih boleh puasa kan?” tanyanya ragu.
Ibunya tersenyum. “Sahur itu sunnah. Puasanya tetap sah.”
Cinta mengangguk pelan.
Tapi masalahnya bukan di situ.
Masalahnya adalah… rasa malas.
Siang yang Menggoda
Login Lampu4d.Jam 11.30 siang.
Cinta mulai merasa haus. Padahal biasanya jam segitu ia masih santai.
“Kenapa hari ini panas banget sih…” keluhnya sambil rebahan di kamar ber-AC.
Temannya, Rani, mengirim pesan.
Rani: “Gimana puasanya?”
Cinta: “Lancar…”
Rani: “Semangat dong! Jangan rebahan mulu.”
Cinta menatap langit-langit kamar.
Ia tahu sebenarnya bukan hausnya yang berat. Tapi rasa malas yang membuat semuanya terasa lebih sulit.
Ia malas bergerak.
Malas membaca Al-Qur’an.
Malas membantu mama.
Malas melakukan apa pun selain scroll media sosial.
Dan di situlah godaan mulai datang.
“Kalau cuma minum dikit… nggak ada yang tahu…”
Ia menatap gelas di meja.
Hening.
Ia mengambil gelas itu.
Dan…
Minum.
Setelah minum, bukan lega yang datang.
Tapi rasa bersalah.
Cinta duduk terdiam.
Ia tahu ia tidak sakit. Tidak ada alasan kuat. Hanya… malas.
Ia merasa gagal pada dirinya sendiri.
Sore harinya, ia melihat adiknya membantu ibu menyiapkan takjil dengan semangat. Ayahnya membaca Al-Qur’an di ruang tamu.
Semua tampak berusaha.
Kecuali dirinya.
Cinta masuk kamar. Air matanya menetes.
“Kenapa sih aku gampang banget kalah sama rasa malas?”
Ia sadar, bukan puasanya yang gagal.
Tapi komitmennya.
Tekad Baru
Rtp Lampu4d.Malam itu, setelah berbuka, Cinta duduk bersama ibunya.
“Ma… hari ini aku batal. Karena malas.”
Ibunya tidak marah.
“Ramadan itu latihan, Nak. Bukan cuma menahan lapar. Tapi menahan diri dari rasa malas juga.”
Cinta terdiam.
“Kamu jatuh hari ini, nggak apa-apa. Yang penting besok bangun lagi.”
Kata-kata itu sederhana. Tapi menghantam hati Cinta.
Malam itu ia tidak membuat status panjang. Tidak pamer niat.
Ia hanya memasang alarm lagi.
Dan kali ini, ia meletakkan ponselnya jauh dari tempat tidur.
Alarm berbunyi.
Cinta menggerutu. Tapi ia harus bangun untuk mematikannya.
Ia duduk. Mengucek mata.
Rasa malas datang lagi.
Tapi kali ini ia melawan.
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” bisiknya pada diri sendiri.
Ia berjalan ke dapur.
Ibunya tersenyum lebar.
“Bangun juga akhirnya.”
Cinta tersenyum balik.
Hari itu ia menjalani puasa dengan lebih sadar. Lebih siap. Lebih ikhlas.
Dan ia belajar satu hal penting:
Malas itu bukan alasan.
Itu hanya godaan yang harus dilawan.
Cinta yang Lebih Kuat
Link Lampu4d.Cinta mungkin bukan anak paling rajin.
Ia masih suka menunda.
Masih suka rebahan.
Tapi Ramadan tahun itu mengajarkannya satu hal:
Kegagalan bukan akhir.
Malas bukan takdir.
Dan berubah… dimulai dari keputusan kecil setiap pagi.
Karena pada akhirnya,
yang membuat puasa batal bukan cuma lapar atau haus…
tapi ketika kita menyerah sebelum berjuang.
untuk cerita lain nya bisa langsung di klik ya
![]() |

Komentar
Posting Komentar