Ide yang Kontroversial
Lampu4d.Ramadhan baru memasuki hari kedua ketika Cinta duduk di bangku kantin kampus dengan wajah kesal. Di sekelilingnya, suasana terasa lebih sepi dari biasanya. Banyak mahasiswa memilih berdiam di kelas atau di musala untuk menghindari godaan makan.
“Aku nggak kuat puasa,” gumamnya pelan.
Sejak kecil, Cinta memang sering merasa berat menjalani puasa. Bukan karena tidak percaya, tapi karena ia mudah lemas dan sering pusing. Tahun ini ia merasa semakin sulit.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.
“Kenapa harus sendirian?” katanya lirih.
Siang itu, ia mulai mengirim pesan ke beberapa teman dekatnya.
“Eh, kalian puasa nggak? Kalau nggak, yuk makan bareng aja. Biar nggak sendirian.”
Beberapa membalas dengan emotikon tertawa. Ada yang ragu. Ada juga yang langsung menolak halus.
Namun Cinta merasa ada kepuasan aneh ketika satu dua orang mengatakan, “Yaudah deh, aku juga lagi nggak puasa.”
Lingkaran Kecil
Login Lampu4d.Hari berikutnya, Cinta duduk di kafe kecil dekat kampus bersama tiga temannya: Rani, Bimo, dan Arga.
“Akhirnya nggak sendirian,” kata Cinta sambil tersenyum lega.
Bimo tertawa kecil. “Aku sebenarnya niat puasa… tapi tadi kesiangan sahur.”
Rani hanya diam, tampak sedikit gelisah.
Cinta mulai merasa seperti pemimpin kecil dalam lingkaran itu. Ia bercanda, membuat suasana santai, bahkan berkata, “Puasa kan pilihan. Nggak usah terlalu dipaksain.”
Kalimat itu terdengar ringan, tapi meninggalkan jejak di hati Rani.
Malamnya, Rani mengirim pesan pribadi pada Cinta.
“Cin, sebenarnya aku tadi nggak enak. Aku cuma ikut-ikutan.”
Cinta membaca pesan itu lama sekali.
Suara Hati
Rtp Lampu4d.Beberapa hari berlalu. Lingkaran kecil itu terus berkumpul diam-diam saat siang. Namun semakin sering mereka bertemu, semakin terasa ada yang berbeda.
Tidak ada tawa lepas seperti biasanya.
Arga suatu hari berkata, “Aku besok mau coba puasa lagi deh.”
Cinta terdiam. “Kenapa?”
“Ya… pengen aja. Rasanya aneh nggak ikut.”
Satu per satu temannya mulai kembali mencoba berpuasa. Bukan karena dipaksa siapa pun, tapi karena panggilan hati.
Kini tinggal Cinta yang masih bertahan dengan keputusannya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian.
Suatu sore, Cinta duduk di bangku taman kampus. Ia melihat mahasiswa lain bersiap berbuka puasa bersama. Ada yang membagikan takjil gratis. Ada yang tertawa riang.
Ia teringat perkataannya sendiri: “Puasa kan pilihan.”
Benar, itu pilihan. Tapi ia mulai bertanya dalam hati—mengapa ia ingin orang lain ikut tidak berpuasa bersamanya?
Apakah karena ia yakin dengan keputusannya?
Atau hanya karena ia tidak ingin merasa sendirian?
Pertanyaan itu menamparnya pelan.
Ia sadar, mungkin yang salah bukan soal puasa atau tidak, melainkan caranya mempengaruhi orang lain agar merasa sama dengannya.
Keputusan Baru
Link Lampu4d.Keesokan harinya, Cinta mengirim pesan ke grup kecil mereka.
“Maaf ya kalau kemarin-kemarin aku kayak ngajak kalian nggak puasa. Itu keputusan masing-masing. Aku nggak seharusnya bikin kalian ragu.”
Beberapa detik kemudian, Rani membalas.
“Nggak apa-apa, Cin. Kita sama-sama belajar.”
Hari itu, Cinta tidak langsung berubah. Ia masih belum kuat berpuasa penuh. Tapi ada satu hal yang berubah dalam dirinya: ia berhenti mengajak orang lain mengikuti keputusannya.
Ia mulai menghormati pilihan masing-masing.
Suatu sore, ia berdiri di depan kampus membagikan air mineral untuk teman-temannya yang berbuka.
Bimo tersenyum heran. “Kamu nggak puasa, tapi bantu bagi-bagi?”
Cinta tersenyum kecil. “Aku mungkin belum kuat menjalani semuanya… tapi aku nggak mau lagi mengajak orang menjauh dari apa yang mereka yakini.”
Langit senja perlahan berubah jingga.
Cinta belajar satu hal penting di Ramadhan itu—bahwa rasa tidak nyaman bukan alasan untuk menyeret orang lain masuk ke dalamnya. Setiap orang punya perjalanan dan keyakinannya sendiri.
Dan kadang, kedewasaan bukan tentang menjadi benar—melainkan tentang berhenti mempengaruhi orang lain demi kenyamanan diri sendiri.
untuk cerita lain nya bisa langsung di klik ya
![]() |

Komentar
Posting Komentar