Si Cinta Melarang Pacarnya untuk Puasa

 

Awal Ramadhan

Lampu4d.Langit sore itu berwarna jingga ketika azan Maghrib berkumandang. Ramadhan telah tiba. Di sudut kota kecil itu, suasana berubah menjadi lebih hangat—lampu-lampu masjid menyala lebih terang, anak-anak berlarian membawa petasan kecil, dan aroma kolak pisang menyeruak dari dapur rumah warga.

Dimas menatap langit dari balkon rumahnya. Hatinya tenang. Tahun ini ia bertekad menjalani puasa dengan lebih sungguh-sungguh. Bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi juga memperbaiki diri.

Ponselnya bergetar.

Cinta calling…

Dimas tersenyum. Cinta adalah pacarnya sejak dua tahun terakhir. Gadis ceria yang selalu penuh semangat—kecuali soal puasa.

“Dim, kamu jadi puasa?” tanya Cinta tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung.

“Iya lah. Kan besok sudah mulai,” jawab Dimas ringan.

“Jangan.”

Dimas terdiam. “Maksud kamu?”

“Jangan puasa. Aku nggak mau kamu sakit lagi kayak tahun lalu.”

Nada suara Cinta terdengar khawatir. Tahun lalu, Dimas memang sempat tumbang karena kelelahan. Ia memaksakan diri bekerja sambil kurang istirahat.

“Cin, itu bukan karena puasanya,” Dimas mencoba menjelaskan, “itu karena aku kurang jaga kondisi.”

“Tetap saja. Aku nggak mau ambil risiko.”

Untuk pertama kalinya, Dimas merasa Ramadhan kali ini tidak akan mudah.

 Kekhawatiran yang Berlebihan

Login Lampu4d.Cinta bukan tidak peduli agama. Ia juga berpuasa, meski sering mengeluh lapar sejak siang. Tapi melihat Dimas yang pernah pingsan membuatnya trauma.

Keesokan harinya, pukul 11 siang.

“Dim, kamu udah minum belum?” pesan masuk dari Cinta.

“Belum. Ini lagi kerja,” balas Dimas.

Lima menit kemudian.

“Dim, serius deh. Minum aja. Nggak usah dipaksain.”

Dimas menghela napas. Ia tahu Cinta hanya khawatir. Tapi ada perasaan aneh—seperti keyakinannya sedang diuji, bukan oleh lapar, melainkan oleh orang yang ia sayangi.

Sore harinya mereka bertemu di taman kota.

“Kamu kenapa sih segitunya?” tanya Dimas lembut.

Cinta menunduk. “Aku takut kehilangan kamu.”

Dimas terdiam.

“Kalau kamu kenapa-kenapa lagi gimana? Aku nggak siap.”

Kalimat itu membuat hati Dimas bergetar. Ia sadar, larangan Cinta bukan karena meremehkan ibadah, tapi karena rasa takut.

Antara Cinta dan Keyakinan

Rtp Lampu4d.Hari ketiga Ramadhan, Dimas mulai merasa lelah—bukan karena lapar, tapi karena tekanan batin. Setiap hari Cinta memintanya untuk berbuka lebih cepat atau membatalkan puasa.

“Dim, kamu pilih aku atau puasa?” suatu malam Cinta berkata dengan nada setengah bercanda, setengah serius.

Dimas terkejut. “Jangan gitu.”

“Ya aku cuma nggak mau kamu sakit.”

“Cin,” Dimas menatapnya dalam, “puasa ini bukan cuma soal tahan lapar. Ini soal komitmen aku sama diri sendiri… sama Tuhan.”

Cinta terdiam.

“Kalau kamu sayang aku,” lanjut Dimas, “harusnya kamu dukung aku jadi lebih baik, bukan menjauhkan.”

Kata-kata itu seperti menampar Cinta perlahan.

Ia tak pernah melihatnya dari sudut itu.

Titik Balik

Link Lampu4d.Suatu siang, justru Cinta yang merasa pusing dan hampir pingsan karena kurang makan sahur. Dimas yang panik langsung membawanya pulang.

“Kamu sendiri nggak jaga kesehatan,” Dimas berkata setengah kesal setengah khawatir.

Cinta terbaring lemah. “Maaf…”

Di momen itu, Cinta sadar sesuatu.

Selama ini ia sibuk melarang Dimas, tapi lupa bahwa yang terpenting bukan berhenti berpuasa—melainkan menjalankannya dengan bijak.

Malamnya, Cinta mengirim pesan.

“Dim, maaf ya. Aku terlalu takut sampai nggak percaya kamu bisa jaga diri.”

Dimas tersenyum membaca pesan itu.

“Aku janji jaga kesehatan. Kamu juga ya.”

Ramadhan yang Berbeda

Situs Lampu4d.Hari-hari berikutnya terasa lebih damai.

Cinta tidak lagi melarang. Justru ia mulai mengingatkan sahur, menyiapkan vitamin, dan memastikan Dimas cukup istirahat.

“Kalau capek, jangan dipaksain kerja lembur,” katanya suatu sore.

Ramadhan berjalan perlahan. Dimas tidak pernah lagi merasa sendirian dalam perjuangannya.

Di malam takbiran, mereka duduk berdampingan mendengar gema takbir dari masjid.

“Maaf ya kalau aku sempat melarang kamu puasa,” Cinta berbisik.

“Kalau bukan karena itu, mungkin kita nggak akan belajar saling mengerti,” jawab Dimas.

Cinta tersenyum. “Ternyata cinta itu bukan melarang… tapi mendukung.”

Dimas menggenggam tangannya. “Dan keyakinan bukan untuk dipaksakan… tapi untuk dipahami.”

Langit malam bertabur bintang. Ramadhan tahun itu bukan hanya tentang menahan lapar dan haus—melainkan tentang memahami bahwa cinta sejati tidak pernah berdiri berlawanan dengan kebaikan.

Ia justru tumbuh bersama di dalamnya.

Baca Juga :

untuk cerita lain nya bisa langsung di klik ya 




Komentar