Mohon maaf ya sebelum nya kawan -kawan cerita ini hanya sebuah kiasan semata dan tidak ada niat untuk menyinggung seseorang,cerita ini di buat hanya untuk hiburan semata saja ya ,dan agar tidak bertele tele langsung saja di baca ya teman-teman semoga kalian terhibur ya .
Hari Pertama dan Meja Nomor Dua Belas
LAMPU4D.Hari pertama bekerja selalu membuat siapa pun gugup. Aku duduk di meja nomor dua belas, mencoba tampak sibuk sambil menahan rasa canggung. Kantor itu penuh suara keyboard, dering telepon, dan langkah orang-orang yang terlihat tahu persis apa yang mereka lakukan—kecuali aku.
“Kalau printer error, jangan dipukul. Dia sensitif.”
Aku menoleh. Seorang pria berkemeja biru muda tersenyum sambil menunjuk printer di samping mejaku.
“Aku Raka. Meja sebelah kamu.”
Sejak hari itu, Raka menjadi orang pertama yang membuat kantor terasa lebih manusiawi. Dia membantuku memahami sistem kerja, mengoreksi presentasiku tanpa merendahkan, dan selalu memastikan aku ikut makan siang, seolah takut aku menghilang begitu saja.
Aku tidak langsung jatuh cinta. Tapi aku mulai merasa nyaman. Dan ternyata, rasa nyaman adalah pintu paling berbahaya.
Dari Rekan Kerja Menjadi Tempat Pulang
Rtp Lampu4d.Kami semakin dekat seiring waktu. Lembur membuat kami sering sendirian di lantai itu—dua cangkir kopi, lampu putih, dan obrolan yang pelan-pelan menjadi pribadi.
Raka bercerita tentang mantan pacarnya yang selingkuh. Aku bercerita tentang ketakutanku gagal di kota besar. Ada luka di antara kami, dan tanpa sadar, kami saling menambalnya.
Suatu malam, hujan turun deras. Raka menawariku pulang bersama. Di dalam mobilnya, hujan menari di kaca, dan radio memutar lagu lama.
“Aku nyaman sama kamu,” katanya tiba-tiba.
Aku diam. Jantungku terlalu berisik untuk menjawab.
Keputusan yang Kami Sembunyikan
Kami mulai pacaran dengan syarat yang tak tertulis: tidak ada yang tahu.
Di kantor, kami profesional. Di luar, kami saling menggenggam tangan. Ada sensasi menyenangkan dalam rahasia itu—seolah dunia hanya milik kami berdua.
Namun ada harga yang harus dibayar. Aku tak bisa menunjukkan cemburu. Tak bisa menuntut waktu lebih. Tak bisa marah saat dia sibuk.
“Ini demi karier kita,” kata Raka setiap kali aku terlihat ragu.
Aku mengangguk, meski kadang hatiku terasa tertinggal.
Ambisi dan Jarak
Login Lampu4d.Proyek besar datang. Raka ditunjuk sebagai koordinator. Jam kerjanya makin panjang, pikirannya makin jauh.
Aku bangga padanya. Tapi di saat yang sama, aku mulai merasa sendirian—bahkan saat kami duduk bersebelahan.
Kami jarang makan malam bersama. Pesan singkatku sering dibalas lama. Saat bersama pun, pikirannya melayang ke layar ponsel.
“Aku capek,” katanya tiap kali kutanya.
Dan aku belajar menelan kecewa dengan senyum.
Nina dan Senyum yang Sama
Nina datang sebagai karyawan baru. Cantik, ceria, dan penuh antusiasme. Semua orang menyukainya—termasuk Raka.
Aku mulai melihatnya: cara Raka tertawa, cara ia bersikap lebih sabar. Cara yang dulu hanya untukku.
“Dia cuma minta dibantu,” katanya saat aku menyinggung.
Aku ingin percaya. Aku memilih percaya. Karena curiga berarti siap kehilangan.
Kecurigaan yang Menjadi Fakta
Game Lampu4d.Perubahan tak bisa disembunyikan selamanya. Raka mulai merahasiakan ponselnya. Menghindari tatapanku. Bahkan lupa hari jadi kami.
Sampai suatu hari, seorang rekan kerja mendekatiku dengan wajah ragu.
“Aku nggak tahu harus bilang atau nggak,” katanya.
Lalu menunjukkan foto: Raka dan Nina di sebuah kafe, duduk terlalu dekat, tersenyum terlalu tulus.
Tanganku gemetar. Dunia seperti kehilangan suara.
Pengakuan Tanpa Pembelaan
Kami bertemu di luar kantor. Tidak ada teriakan. Tidak ada drama.
“Aku nggak berniat,” katanya.
“Kami cuma dekat. Lalu keterusan.”
Aku menatapnya lama. Pria yang dulu kukenal, kini terasa asing.
“Kamu tahu yang paling menyakitkan apa?” tanyaku.
“Bukan selingkuhnya. Tapi kamu melakukannya setelah bilang kamu trauma diselingkuhi.”
Dia menunduk. Tidak ada alasan yang cukup.
Putus di Tempat yang Sama
Kami putus. Tanpa pengumuman. Tanpa saksi.
Keesokan harinya, kami tetap ke kantor. Duduk di meja yang sama. Menjadi dua orang asing yang saling tahu terlalu banyak.
Aku belajar bekerja sambil menahan perih. Setiap tawa Raka bersama Nina seperti mengorek luka yang belum sembuh.
Tapi aku bertahan. Karena pergi bukan satu-satunya cara untuk kuat.
Bangkit Perlahan
Waktu berlalu. Aku mulai fokus pada diriku sendiri. Karierku membaik. Aku belajar berkata “tidak” dan pulang tepat waktu.
Raka akhirnya pindah divisi. Nina pun tak lama kemudian resign.
Suatu sore, aku berdiri sendiri di pantry, menyadari satu hal penting:
Aku tidak kalah.
Aku hanya berhenti berjuang untuk orang yang salah.
Cinta yang Lebih Dewasa
Jamin Hoki.Kini, aku tahu: cinta bukan hanya tentang rasa, tapi tentang pilihan untuk setia, jujur, dan bertanggung jawab.
Pacaran dengan teman sekantor bukan kesalahan. Tapi mengkhianati kepercayaan—itu pilihan.
Dan aku memilih melanjutkan hidup. Lebih dewasa. Lebih utuh.
Karena kisah ini bukan tentang kehilangan dia.
Ini tentang menemukan diriku sendiri.
-
![]() |

Komentar
Posting Komentar