Mohon maaf ya sebelum nya kawan -kawan cerita ini hanya sebuah kiasan semata dan tidak ada niat untuk menyinggung seseorang,cerita ini di buat hanya untuk hiburan semata saja ya ,dan agar tidak bertele tele langsung saja di baca ya teman-teman semoga kalian terhibur ya .
Senin di Lorong Sekolah
Lampu4d.Bel masuk berbunyi ketika Nisa masih berdiri di depan loker, berusaha menutup pintu yang macet. Di saat itulah ia melihatnya—kakak kelas dengan seragam rapi dan senyum yang tidak berisik. Ia lewat sambil mengangguk sopan.
“Pagi,” katanya.
Nisa kaku. “Pa… pagi.”
Satu kata, tapi jantungnya seperti berlari. Sejak hari itu, lorong sekolah tak pernah sama.
Namanya Arga. Nisa tahu dari papan mading OSIS yang penuh foto kegiatan.
“Dia ketua panitia lomba,” bisik sahabat Nisa, Rani.
“Oh,” jawab Nisa terlalu cepat.
Setiap kali lewat mading, Nisa berhenti sebentar. Bukan membaca. Mengingat senyum itu.
Perpustakaan yang Tenang
Login Lampu4d.Mereka bertemu lagi di perpustakaan. Arga sedang menyusun buku.
“Kamu kelas berapa?” tanyanya ramah.
“Kelas sepuluh,” jawab Nisa.
“Rajin ke sini,” kata Arga. “Bagus.”
Nisa mengangguk. Ia tak berani menatap lama, takut perasaannya terbaca.
Arga menambahkan Nisa ke grup panitia lomba kelas. Malamnya, Nisa menatap layar ponsel.
Terima kasih sudah bantu hari ini.
Pesan itu diketik, lalu dihapus. Ia belum berani.
Rindu pertamanya terasa lucu—dan sedikit menakutkan.
Hari Hujan
Rtp Lampu4d.Hujan turun deras saat kegiatan selesai. Nisa menunggu di teras.
“Payungmu?” tanya Arga.
“Ketinggalan.”
“Pakai ini,” katanya sambil menyodorkan payung.
Mereka berjalan berjarak, tapi hati Nisa terasa dekat. Tak ada sentuhan. Cukup kebersamaan yang sopan.
“Kamu kelihatan beda,” kata Rani.
“Beda bagaimana?”
“Lebih sering senyum sendiri.”
Nisa tertawa kecil. “Aku takut.”
“Takut itu wajar,” jawab Rani. “Asal kamu tetap jadi Nisa.”
Panggung Kecil
Login Lampu4d.Di hari lomba, Arga berdiri di panggung.
“Terima kasih untuk adik-adik kelas sepuluh,” katanya. “Kalian luar biasa.”
Nisa bertepuk tangan paling lama. Di antara riuh, ia merasa diperhatikan.
“Kamu capek?” tanya Arga saat mereka berjalan menuju gerbang.
“Sedikit,” jawab Nisa.
“Kalau capek, istirahat. Jangan memaksa,” katanya.
Kalimat sederhana itu tinggal lama di hati Nisa.
Mengakui pada Diri Sendiri
Game Lampu4d.Di kamar, Nisa menulis di buku harian.
Aku jatuh cinta. Pelan. Sopan. Tanpa tuntutan.
Ia menutup buku dengan senyum yang hati-hati.
Suatu hari, Arga sibuk dan jarang terlihat. Nisa belajar menerima.
Perasaan ini bukan untuk dimiliki, pikirnya. Cukup dirawat.
Ia memilih fokus belajar, sambil menyimpan rindu di sela halaman buku.
“Maaf ya, akhir-akhir ini sibuk,” kata Arga.
“Nggak apa-apa,” jawab Nisa jujur.
“Terima kasih sudah selalu sopan,” lanjutnya. “Itu jarang.”
Nisa tersenyum. Pujian itu sederhana, tapi cukup.
Cinta pertama Nisa tak berisik. Ia tumbuh seperti pagi—perlahan, jujur, dan menghangatkan.
Entah nanti perasaan ini akan menjadi cerita panjang atau kenangan manis, Nisa tahu satu hal: ia belajar berani, tanpa kehilangan diri sendiri.
-
![]() |

Komentar
Posting Komentar