Kekasihku Ternyata Tetanggaku Sendiri di Kampung

 


Pulang yang Tak Pernah Sama

Lampu4d.Namaku Nara. Setelah lima tahun merantau di Jakarta, akhirnya aku pulang ke kampung halaman di Jawa Tengah. Alasan kepulanganku sederhana—Ayah sakit, dan Mama butuh bantuan.

Kampungku tak banyak berubah. Sawah tetap menghijau, suara ayam masih jadi alarm pagi, dan jalan tanah di depan rumah masih sama seperti dulu.

Yang berbeda… hanya perasaanku.

Hari pertama pulang, aku berdiri di teras rumah, menikmati angin sore. Tiba-tiba terdengar suara berat dari sebelah.

“Lama nggak pulang, Ra.”

Aku menoleh.

Arga.

Tetanggaku sejak kecil. Rumahnya hanya terpisah pagar bambu dari rumahku. Dulu kami sering bermain bersama, lalu perlahan menjauh saat aku pindah sekolah ke kota.

Kini dia berdiri di sana—lebih tinggi, lebih dewasa, dengan senyum yang sama seperti dulu.

“Masih ingat aku?” tanyanya sambil tersenyum.

Aku tersenyum kecil. “Tetangga paling berisik? Mana mungkin lupa.”

Dan sejak hari itu, sesuatu mulai tumbuh kembali di antara kami.

Kenangan yang Tertinggal

Login Lampu4d.Arga sering membantu Ayah mengantar ke dokter. Ia juga tanpa diminta memperbaiki genteng bocor rumah kami.

Mama tersenyum tiap kali melihatnya.

“Arga itu anak baik. Dari dulu juga perhatian sama kamu,” kata Mama suatu malam.

Aku hanya tertawa kecil. “Dari dulu dia cuma jahil, Ma.”

Tapi jauh di dalam hati, aku mulai mengingat hal-hal kecil.

Bagaimana dulu Arga selalu membelaku saat aku diejek teman.
Bagaimana dia diam-diam mengantarkanku ke terminal saat aku pertama kali merantau.

Dan kini, setiap sore, kami duduk di bangku kayu depan rumah, berbincang tentang hidup di kota dan hidup di desa.

“Capek nggak hidup di Jakarta?” tanyanya suatu sore.

“Capek. Ramai, tapi sepi,” jawabku jujur.

Arga menatap sawah yang menguning. “Di sini sepi, tapi nggak pernah benar-benar sendirian.”

Kalimatnya sederhana, tapi entah kenapa membuat hatiku hangat.

Perasaan yang Tersadar

Rtp Lampu4d.Suatu malam di acara kenduri kampung, listrik tiba-tiba padam. Orang-orang tertawa, anak-anak berlarian dengan lilin.

Aku berdiri di halaman balai desa ketika tiba-tiba tanganku disentuh.

“Takut gelap?” suara Arga terdengar pelan.

“Aku bukan anak kecil lagi,” protesku.

Tapi tangannya tetap menggenggam tanganku.

Dalam gelap itu, aku sadar satu hal—aku nyaman. Terlalu nyaman.

Beberapa hari kemudian, saat aku hendak kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan pekerjaanku, Arga mengantarku ke terminal.

Sebelum aku naik bus, dia berkata pelan, “Kalau suatu hari kamu capek lagi… pulang saja. Aku masih di sebelah rumahmu.”

Dadaku sesak.

Di dalam bus, aku menatap jendela yang perlahan menjauhkan kampungku. Dan di sanalah aku menyadari sesuatu yang selama ini tak pernah berani kuakui.

Aku mencintainya.

Jarak yang Menguji

Link Lampu4d.Kembali di Jakarta, semuanya terasa berbeda. Chat dari Arga jadi hal yang paling kutunggu.

Kami mulai saling bercerita lebih dalam. Tentang mimpi. Tentang rencana masa depan. Tentang rasa yang tak lagi bisa disembunyikan.

Suatu malam, saat hujan deras mengguyur kota, Arga menelepon.

“Nara.”

“Iya?”

“Aku nggak mau cuma jadi tetanggamu.”

Jantungku berdegup kencang.

“Aku mau jadi orang yang kamu pulangi.”

Air mataku jatuh begitu saja.

“Ga…” suaraku bergetar. “Aku juga.”

Cinta yang Selalu Dekat

Game Lampu4d.Enam bulan kemudian, aku memutuskan bekerja secara remote agar bisa lebih sering di kampung. Ayah sudah membaik, dan rumah terasa lebih hidup.

Sore itu, di bawah pohon mangga yang dulu sering kami panjat, Arga berdiri di depanku.

“Kita sudah lama bertetangga,” katanya sambil tersenyum gugup. “Mungkin sudah waktunya kita serumah.”

Aku tertawa kecil, air mata bahagia menggenang.

Tak pernah kusangka, pria yang selama ini kucari di kota besar ternyata sudah ada sejak dulu—hanya terpisah pagar bambu.

Tak Pernah Jauh

Situs Lampu4d.Cinta tak selalu datang dari tempat yang jauh atau orang yang asing.

Kadang ia tumbuh pelan, diam-diam, di sebelah rumah kita sendiri.

Dan aku, Nara, akhirnya sadar…

Kekasihku ternyata bukan orang baru dalam hidupku.
Ia adalah tetanggaku sendiri di kampung—yang sejak dulu sudah menjaga hatiku, tanpa pernah kusadari.

Baca Juga :

untuk cerita lain nya bisa langsung di klik ya 




Komentar