Lampu4d. Langit Batam sore itu berwarna kelabu. Angin dari arah laut membawa bau asin yang akrab bagi Ria. Kota itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah saksi cinta, janji, dan kebodohan yang tak pernah ia kira akan merenggut nyawanya sendiri.
Ria berdiri di tepi Jembatan Barelang, menatap kendaraan yang berlalu. Di ponselnya, pesan terakhir dari Jery masih terbuka.
“Kita cukup sampai sini, Ria. Aku sudah punya pilihan di Jakarta.”
Ria mengenal Jery sejak dua tahun lalu. Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di Nagoya Hill. Jery datang sebagai pekerja proyek dari Jakarta—tinggi, percaya diri, dan penuh ambisi. Ria, gadis Batam yang sederhana, jatuh pada caranya berbicara tentang mimpi.
“Aku nggak mau selamanya di sini,” kata Jery waktu itu. “Jakarta itu tempat orang besar lahir.”
Ria tersenyum. “Kalau kamu besar nanti, jangan lupa aku ya.”
Jery tertawa, menggenggam tangannya. “Kamu bagian dari rencanaku.”
Ria percaya.
Awalnya hubungan jarak jauh terasa manis. Panggilan video setiap malam. Janji akan menikah ketika proyek selesai. Bahkan Ria rela menggunakan tabungannya untuk membantu Jery membuka usaha kecil di Jakarta.
“Ini investasi masa depan kita,” ucap Ria waktu mentransfer uang terakhirnya.
Login Lampu4d.Namun Jakarta mengubah Jery.
Balasan pesan semakin jarang. Nada suaranya berubah. Lebih dingin. Lebih jauh. Hingga suatu malam, sebuah foto muncul di media sosial.
Jery bersama seorang perempuan berambut panjang, berdiri di depan gedung pencakar langit. Tertawa.
Caption-nya sederhana: “Awal baru.”
Dunia Ria runtuh dalam satu detik.
Ria tidak langsung menyerah. Ia terbang ke Jakarta tanpa memberi tahu siapa pun. Tiket dibelinya dengan sisa uang yang ada. Hatinya penuh harap dan ketakutan.
Ia menemukan alamat Jery dari kiriman paket lama. Apartemen sederhana di daerah Selatan.
Ketika pintu itu terbuka, Jery berdiri di sana.
Wajahnya terkejut. Bukan bahagia.
“Ria? Kamu ngapain di sini?”
Air mata Ria jatuh tanpa suara. “Aku cuma mau dengar dari kamu langsung.”
Di belakang Jery, perempuan dalam foto itu muncul.
“Siapa ini?” tanya perempuan itu.
Dan saat itulah Jery mengucapkan kalimat yang menghancurkan segalanya.
“Kamu siapa?” kata si Jery, menatap Ria seperti orang asing.
Bukan hanya pengkhianatan. Itu penghapusan.
Ria pulang ke Batam dengan hati kosong. Ia tak lagi menangis. Tak lagi marah. Yang tersisa hanya sunyi.
Orang tuanya bertanya kenapa ia sering melamun. Sahabatnya mencoba menghibur. Tapi Ria seperti kehilangan warna.
Rtp Lampu4d.Beberapa minggu kemudian, kabar tentang Jery dan perempuan Jakarta itu tersebar. Mereka bertunangan. Foto-fotonya viral di lingkaran pertemanan mereka.
Ria menatap layar dengan tatapan hampa.
Ia merasa hidupnya tidak lagi memiliki tempat.
Malam itu hujan deras mengguyur Batam. Jalanan licin. Ria mengendarai motornya tanpa tujuan. Angin menampar wajahnya, tetapi ia tak peduli.
Di kepalanya hanya terngiang satu kalimat.
Kamu siapa?
Ia yang memberikan segalanya. Ia yang percaya. Ia yang menunggu.
Lalu kini dianggap tidak pernah ada.
Lampu truk dari arah berlawanan menyilaukan. Klakson terdengar panjang. Motor Ria oleng di tikungan.
Semuanya terjadi dalam hitungan detik.
Tubuhnya terlempar.
Suara hujan bercampur jerit orang-orang.
untuk cerita lain nya bisa langsung di klik ya
![]() |

Komentar
Posting Komentar