Godaan Si Dimas di Hari Puasa

 

Janji di Awal Ramadan

Lampu4d.Dimas bukan anak nakal. Tapi juga bukan anak yang terlalu taat.

Ia kelas dua belas, suka futsal, hobi nongkrong, dan paling susah kalau disuruh bangun sahur.

Malam pertama Ramadan, ia duduk bersama ayahnya.

“Tahun ini kamu udah kelas dua belas. Harus lebih dewasa, Mas,” kata ayahnya.

Dimas mengangguk mantap.
“Iya Yah. Tahun ini full puasa. Nggak ada bolong.”

Ia percaya diri.

Terlalu percaya diri.

Hari pertama puasa berjalan lancar.

Hari kedua… mulai terasa berat.

Siang itu Dimas latihan futsal ringan bersama teman-temannya di lapangan sekolah. Matahari terasa seperti tepat di atas kepala.

Keringat mengucur deras.

Di pinggir lapangan, botol minuman dingin milik temannya tergeletak.

Dimas menatapnya.

Setetes embun di botol itu seperti memanggil-manggil.

“Minum dikit aja… cuma basahin bibir,” bisik pikirannya.

Temannya yang tidak puasa meneguk air dengan nikmat.

“Seger banget, Mas.”

Dimas menelan ludah.

Tapi ia menoleh.
Menjauh dari botol itu.

“Gue tahan,” gumamnya.

Godaan pertama berhasil ia lewati.

Godaan Kedua: Emosi

Login Lampu4d.Sore hari, saat hampir berbuka, adiknya tak sengaja menjatuhkan ponsel Dimas hingga tergores.

“Maaf, Kak…” kata adiknya ketakutan.

Biasanya Dimas akan langsung marah besar.

Dan hari itu emosinya benar-benar naik.

“Liat dong kalau jalan!” bentaknya hampir lepas.

Tapi ia terdiam.

Ia ingat satu hal.

Puasa bukan cuma menahan lapar.

Tapi juga menahan amarah.

Napasnya berat. Dadanya sesak. Tapi ia memilih diam.

“Udah… lain kali hati-hati ya.”

Adiknya tersenyum lega.

Godaan kedua berhasil ia tahan.

Malam harinya, teman-teman Dimas mengirim pesan.

Riko: “Mas, nongkrong yuk. Ada anak baru cakep banget.”
Fahmi: “Sekalian bukber lanjut nongkrong sampe sahur!”

Dimas tahu biasanya nongkrong mereka bukan cuma ngobrol. Kadang keluyuran sampai lupa waktu, bahkan meninggalkan tarawih.

Ia bimbang.

Kalau tidak ikut, dibilang sok alim.
Kalau ikut, ibadahnya bisa berantakan.

Ia menatap jadwal ujian yang makin dekat. Menatap Al-Qur’an yang masih tertutup rapi di meja.

Hatinya berperang.

Akhirnya ia mengetik:
“Gue nggak dulu ya. Lagi pengen fokus Ramadan.”

Pesan terkirim.

Beberapa detik sunyi.

Lalu balasan datang.

“Wih, ustaz Dimas.”
“Taubat ya lu.”

Dimas tersenyum kecil.
Entah kenapa, malam itu ia merasa lebih tenang.

 Godaan Terberat

Rtp Lampu4d.Seminggu berlalu.

Puasa berjalan cukup lancar.

Sampai suatu hari, Dimas sendirian di rumah. Orang tuanya pergi sebentar. Di dapur ada sisa ayam goreng hangat.

Aromanya menggoda.

Tidak ada yang melihat.

Tidak ada yang tahu.

Hatinya berbisik,
“Cuma sekali…”

Tangannya hampir membuka tudung saji.

Lalu ia berhenti.

Ia sadar satu hal.

Puasa bukan tentang siapa yang melihat.

Tapi tentang siapa yang kita takuti.

Dimas menutup kembali tudung saji.

Ia duduk di ruang tamu. Menarik napas panjang.

Hari itu ia menang. Bukan atas lapar. Tapi atas dirinya sendiri.

Malam itu, saat berbuka bersama keluarga, ayahnya berkata,

“Ramadan itu bukan tentang sempurna. Tapi tentang belajar mengendalikan diri.”

Dimas tersenyum.

Ia kini paham.

Godaan bukan musuh.
Godaan adalah ujian.

Setiap kali ia menahan diri, ia merasa sedikit lebih dewasa.

Sedikit lebih kuat.

Sedikit lebih dekat dengan versi terbaik dirinya.

 Dimas yang Berbeda

Link Lampu4d.Ramadan hampir berakhir.

Dimas tidak berubah menjadi anak paling religius.

Ia masih suka bercanda.
Masih suka futsal.
Masih kadang malas.

Tapi kini ia tahu caranya melawan godaan.

Dan ia belajar satu hal besar:

Menang melawan orang lain itu biasa.

Menang melawan diri sendiri… itu luar biasa.


Baca Juga :

untuk cerita lain nya bisa langsung di klik ya 




Komentar