DINDA TIDAK PUASA KARENA LAGI HALANGAN



 Hari Pertama Ramadan

Lampu4d.Suara alarm berbunyi pukul 03.30. Di rumah kecil itu, lampu dapur sudah menyala. Aroma nasi goreng dan teh hangat memenuhi udara.

Dinda duduk di tepi tempat tidur dengan wajah pucat. Perutnya terasa mulas sejak malam. Ketika ia ke kamar mandi dan melihat bercak merah itu, ia menghela napas panjang.

“Datang juga…”

Ramadan baru saja dimulai.
Dan Dinda tidak akan berpuasa hari ini.

Rasa Bersalah yang Tak Perlu

Di meja makan, ayah dan adiknya bersiap sahur. Ibu menoleh ke arah Dinda.

“Kamu nggak usah sahur dulu ya?” tanya ibunya pelan.

Dinda mengangguk. “Lagi halangan, Bu.”

Ayahnya hanya tersenyum singkat. “Istirahat yang cukup.”

Sederhana. Tanpa drama. Tanpa penghakiman.

Namun anehnya, justru Dinda sendiri yang merasa tidak enak. Seolah-olah ia sedang tertinggal dari yang lain.

Padahal ia tahu—ini bukan pilihan. Ini siklus tubuhnya sebagai perempuan.

Di sekolah, suasana Ramadan terasa kuat. Banyak teman yang tampak lemas, sebagian lain sibuk membicarakan menu berbuka.

“Din, kamu puasa nggak?” tanya Rani saat jam istirahat.

Dinda terdiam sesaat. Lalu menjawab jujur, “Nggak. Lagi halangan.”

Rani mengangguk biasa saja. “Oh, yaudah.”

Tidak ada cibiran. Tidak ada tawa mengejek. Hanya respons biasa.

Dinda tersadar—kadang rasa takut itu hanya ada di pikirannya sendiri.

Belajar Menerima

Login Lampu4d.Sore hari, Dinda duduk di dapur membantu ibunya memotong buah untuk es campur.

“Aku ngerasa kayak kurang maksimal di Ramadan ini, Bu,” ucap Dinda pelan.

Ibunya menghentikan pekerjaannya dan menatapnya lembut.
“Justru kamu lagi menjalani ketentuan yang Allah kasih. Itu bukan kurang maksimal. Itu taat.”

“Tapi aku nggak puasa…”

“Kamu akan menggantinya nanti. Sekarang tugasmu jaga diri, tetap salat kalau sudah suci, tetap berbuat baik. Ramadan bukan cuma soal menahan lapar.”

Kata-kata itu membuat Dinda berpikir.

Selama ini ia mengira nilai dirinya di bulan Ramadan ditentukan oleh berapa hari ia berpuasa tanpa jeda.

Padahal tidak sesempit itu.

Suatu siang, Dinda membeli minum di warung dekat rumah. Seorang ibu tetangga melihatnya.

“Lho, nggak puasa?”

Dinda menelan ludah. Dulu mungkin ia akan berbohong. Tapi kini ia memilih jujur.

“Lagi halangan, Bu.”

“Oh…” jawab ibu itu singkat.

Tak ada lanjutan. Tak ada sindiran.

Dinda berjalan pulang sambil tersenyum kecil. Ternyata kejujuran jauh lebih ringan daripada rasa malu yang dipendam.

Hari-Hari Menunggu

Rtp Lampu4d.Beberapa hari berlalu. Dinda tetap ikut berbuka bersama keluarga. Ia membantu membagikan takjil di masjid. Ia membaca buku-buku agama di sore hari.

Ia sadar, meski tidak berpuasa, ia tetap bisa mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara lain.

Ramadan bukan perlombaan fisik.
Ramadan adalah perjalanan hati.

Dan setiap orang punya jalannya masing-masing.

Saat masa halangannya selesai, Dinda bangun sahur dengan perasaan berbeda. Ia merasa lebih siap, lebih bersyukur.

Ketika menahan lapar di siang hari, ia tidak lagi menganggapnya beban. Ia melihatnya sebagai kesempatan.

Ia tersenyum dalam hati.

Ternyata jeda beberapa hari itu bukan membuatnya tertinggal. Justru membuatnya lebih memahami makna sabar dan syukur.

Tentang Perempuan dan Kekuatan

Link Lampu4d.Ramadan tahun itu mengajarkan Dinda satu hal penting:

Menjadi perempuan berarti menerima siklus tubuh dengan lapang dada. Tidak ada yang memalukan dari halangan. Tidak ada yang perlu disembunyikan.

Ia belajar bahwa iman tidak diukur dari seberapa sempurna ibadahnya terlihat di mata orang lain.

Iman tumbuh dalam kejujuran.
Dalam penerimaan.
Dalam ketenangan menjalani apa yang memang sudah menjadi ketentuan.

Dan Dinda, dengan segala kodratnya, tetap menjadi bagian utuh dari Ramadan—meski sempat tidak berpuasa karena lagi halangan.


Baca Juga :

untuk cerita lain nya bisa langsung di klik ya 


Komentar