CINTA PUASA HANYA BEBERAPA JAM


 

Jam yang Terlalu Cepat

Nara selalu percaya bahwa menahan lapar lebih mudah daripada menahan rindu.

Tapi Ramadan tahun ini mengajarkannya satu hal:
yang paling sulit bukan haus atau perut kosong—
melainkan menjaga hati agar tidak kembali pada orang yang hanya mampu “puasa” beberapa jam.

Jam empat pagi, Nara duduk di meja makan bersama keluarganya. Udara masih dingin, azan Subuh belum berkumandang. Di hadapannya ada segelas air dan sepiring kecil nasi.

Ia menatap layar ponsel.

Tidak ada pesan dari Arkan.

Padahal seminggu lalu, Arkan yang berjanji, “Ramadan ini kita mulai lagi dari awal. Aku mau berubah.”

Nara tersenyum pahit. Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat itu.

Setiap Ramadan, Arkan selalu punya niat baik.
Dan seperti kebanyakan niatnya—bertahan hanya beberapa jam.

Arkan dan Janji-janji

Arkan adalah tipe pria yang memesona di awal. Ucapannya lembut, perhatiannya hangat, dan caranya menatap membuat Nara merasa menjadi satu-satunya perempuan di dunia.

Tapi Arkan juga tipe pria yang mudah tergoda—oleh kesibukan, oleh teman-teman, oleh perempuan lain yang sekadar memberi perhatian kecil.

“Aku cuma bercanda,” katanya setiap kali Nara menemukan chat yang tak pantas.

“Aku nggak ada niat apa-apa.”

Seperti orang yang berpuasa lalu mencicipi sedikit makanan dan berkata, “Cuma sedikit, nggak apa-apa.”

Padahal sedikit tetaplah membatalkan.

Hari pertama Ramadan, Arkan mengirim pesan panjang.

“Aku lagi di masjid. Denger kajian, jadi kepikiran kamu. Aku mau serius.”

Nara membacanya dengan hati yang ragu.

Siang harinya, seorang teman mengirim tangkapan layar.
Arkan terlihat nongkrong di kafe, tertawa bersama seorang perempuan yang bukan Nara.

Jam dua siang.

Belum genap sepuluh jam sejak Subuh.

Nara tidak marah. Tidak menangis.
Ia hanya merasa lelah.

Cinta yang hanya mampu bertahan beberapa jam bukanlah cinta yang siap diperjuangkan.

Berbuka Tanpa Harapan

Sore itu, Nara membantu ibunya menyiapkan takjil. Aroma kolak memenuhi dapur.

Ia teringat tahun lalu—Arkan datang membawa kurma dan senyum malu-malu. Mereka berbuka bersama, tertawa, saling menyuapi.

Kenangan memang manis.
Tapi tidak semua yang manis itu sehat.

Azan Magrib berkumandang. Nara berdoa lebih lama dari biasanya.

Bukan meminta Arkan kembali.
Tapi meminta hatinya kuat untuk benar-benar melepaskan.

Malam harinya, Arkan datang ke rumah.

“Aku salah,” katanya pelan. “Aku cuma nggak mau kehilangan kamu.”

“Kamu nggak mau kehilangan aku,” Nara mengulang, “tapi kamu juga nggak mau kehilangan pilihan lain.”

Arkan terdiam.

“Aku capek, Kan,” lanjutnya. “Aku mau cinta yang kuat dari Subuh sampai Magrib. Bukan yang batal sebelum Zuhur.”

Kalimat itu sederhana, tapi untuk pertama kalinya, Nara mengucapkannya tanpa gemetar.

Makna Menahan

Ramadan berjalan. Hari-hari berlalu.

Arkan masih sesekali mengirim pesan. Kadang minta maaf, kadang mengingatkan makan sahur, kadang sekadar mengirim emotikon bulan sabit.

Nara tak lagi menunggu.

Ia mulai mengikuti kajian sore di masjid dekat rumah. Ia belajar bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi juga menahan diri dari hal yang merusak hati.

Dan ia sadar—

Selama ini, ia bukan hanya menahan lapar.
Ia menahan luka.
Menahan kecewa.
Menahan diri untuk tidak pergi.

Kini, ia belajar melepaskan.

Malam ke-27 Ramadan, Nara duduk di teras masjid setelah tarawih. Angin lembut menyentuh wajahnya.

Seorang pria duduk tak jauh darinya—Faris, teman lama yang baru kembali ke kota. Mereka berbincang ringan tentang pekerjaan, keluarga, dan rencana setelah Lebaran.

Tidak ada rayuan. Tidak ada janji berlebihan.

Hanya percakapan yang tenang.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nara merasa damai.

Ia mengerti sekarang:

Cinta bukan tentang seberapa manis di awal.
Bukan tentang pesan panjang di waktu Subuh.

Cinta adalah tentang konsistensi—
tentang bertahan, bahkan saat tak ada yang melihat.

Lebih dari Sekadar Beberapa Jam

Di hari terakhir Ramadan, Arkan mengirim pesan terakhir:

“Maaf kalau aku nggak bisa jadi yang kamu mau.”

Nara membalas singkat:

“Aku cuma mau yang bisa bertahan.”

Ia menatap langit senja yang perlahan berubah gelap.

Puasa mengajarkannya banyak hal.
Tentang sabar.
Tentang batas.
Tentang memilih.

Dan yang paling penting—
tentang tidak lagi menerima cinta yang hanya kuat beberapa jam.

Karena hati, seperti ibadah,
layak diperjuangkan sepenuh waktu.

Baca Juga :

untuk cerita lain nya bisa langsung di klik ya 



Komentar