Akhirnya Si Cinta Puasa Juga



 

 Hari-Hari yang Terlewat

Lampu4d.Ramadan tahun ini datang dengan sunyi.

Bukan karena sepi orang, bukan pula karena kota kehilangan gemerlapnya. Sunyi itu tinggal di dada Cinta—seorang perempuan dua puluh tiga tahun yang belakangan merasa hidupnya berjalan terlalu cepat.

Ia tahu puasa itu kewajiban. Ia tahu Ramadan bukan sekadar bulan biasa. Tapi entah kenapa, hari pertama berlalu tanpa niat. Hari kedua juga. Hari ketiga bahkan terasa seperti hari biasa.

Pagi itu, Cinta duduk di tepi ranjang, menatap cahaya matahari yang menyelinap lewat jendela. Di ponselnya, notifikasi grup keluarga berdenting:

“Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga dilancarkan.”

Cinta menghela napas.

Ia tidak membalas.

Bukan karena sombong—hanya saja hatinya sedang kusut. Pekerjaan menumpuk, pikirannya penuh, dan ia merasa jauh dari dirinya sendiri.

“Aku puasa besok saja,” gumamnya pelan.

Kalimat itu terulang selama beberapa hari.

 Rasa Bersalah yang Diam-Diam Tumbuh

Login Lampu4d.Setiap sore, Cinta melihat orang-orang membeli takjil. Anak kecil berlarian membawa es sirup. Pasangan muda menunggu waktu berbuka sambil tertawa kecil. Semua terlihat hangat.

Sementara Cinta berjalan sendiri.

Ada rasa aneh yang menempel di dadanya—bukan lapar, bukan haus, tapi rasa bersalah yang tumbuh diam-diam.

Ia mulai sering terbangun tengah malam, duduk di ruang tamu dengan lampu redup, bertanya pada dirinya sendiri:

“Kenapa aku begini?”

Ibunya pernah berkata, puasa bukan cuma soal menahan lapar, tapi tentang menata hati.

Dan hati Cinta sedang berantakan.

 Pertemuan dengan Diri Sendiri

Rtp Lampu4dSuatu malam, hujan turun pelan.

Cinta berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap wajahnya sendiri. Matanya lelah, tapi masih menyimpan harap.

Ia mengambil sajadah dari lemari. Sudah lama tak disentuh.

Pelan-pelan ia gelar.

Tangannya gemetar saat mengangkatnya untuk salat. Tidak banyak doa yang ia ucapkan, hanya satu kalimat sederhana:

“Ya Tuhan… aku mau mulai lagi.”

Air matanya jatuh tanpa suara.

Di saat itu, Cinta sadar—ia tidak harus menjadi sempurna untuk kembali. Ia hanya perlu berani memulai.

Niat yang Akhirnya Terucap

Link Lampu4d.Pagi berikutnya, Cinta bangun lebih awal.

Ia mengambil segelas air, menatap jam di dinding, lalu menutup mata.

“Niat puasa hari ini…”

Kalimat itu terasa berat, tapi juga menenangkan.

Ia tersenyum kecil.

Ini hari pertamanya setelah bolong beberapa hari.

Siang terasa panjang, tapi ada kekuatan baru yang tumbuh. Saat perut mulai kosong, hatinya justru terasa penuh. Ia menolak ajakan makan, menahan diri dari kebiasaan lama, dan memilih duduk diam ketika emosi datang.

Untuk pertama kalinya selama Ramadan ini, Cinta merasa hadir sepenuhnya.

 Akhirnya Cinta Puasa Juga

Game Online.Maghrib datang dengan warna jingga.

Cinta duduk di meja makan dengan sepiring nasi hangat dan segelas air putih. Tangannya sempat berhenti sebelum menyentuh gelas.

Ia tersenyum.

“Akhirnya aku puasa juga,” bisiknya pada diri sendiri.

Saat azan berkumandang, ia meneguk air perlahan. Bukan hanya dahaganya yang terobati—ada sesuatu yang kembali pulang ke dalam dirinya.

Damai.

Ia tahu, ia masih punya banyak kekurangan. Tapi malam itu, Cinta belajar satu hal penting:

Kadang kita tersesat bukan karena jauh berjalan, tapi karena lupa berhenti.

Dan kembali—selalu mungkin.


Baca Juga :

untuk cerita lain nya bisa langsung di klik ya 


Komentar