Akhirnya Nisa Menikah dengan Sang Pujaan Hati — Part 2

 

Lampu4d.Mohon maaf ya sebelum nya kawan -kawan cerita ini hanya sebuah kiasan semata dan tidak ada niat untuk menyinggung seseorang,cerita ini di buat hanya untuk hiburan semata saja ya ,dan agar tidak bertele tele langsung saja di baca ya teman-teman semoga kalian terhibur ya .

Rindu yang Dijaga

Game Lampu4d.Hari-hari setelah lamaran berjalan pelan, seperti sengaja diperlambat agar rindu punya ruang.

“Kalau kangen?” tanya Nisa lewat telepon.

“Tarik napas,” jawabnya lembut. “Aku juga kangen, tapi kita simpan.”

“Disimpan di mana?”

“Di doa. Biar aman.”

Nisa tersenyum lama setelah panggilan berakhir.

Malam membuat kata-kata lebih jujur.

Kamu sudah tidur?

Belum. Lagi mikirin kamu.

Nisa tertawa kecil. “Bohong.”

Nggak. Aku hitung jam biar cepat besok.

Aku juga.

Mereka berhenti mengetik bersamaan—seolah sepakat menjaga detak jantung masing-masing.

Pertemuan Singkat

Situs Lampu4d.Di kafe kecil itu, waktu terasa rapuh.

“Kamu capek,” katanya sambil mendorong cangkir teh ke arah Nisa.

“Capeknya enak,” jawab Nisa. “Karena kamu ada di sini.”

Ia tersenyum. “Kalau mau diam, kita diam.”

“Kalau mau bicara?”

“Aku dengar.”

Nisa menatapnya. Ada tenang yang tak perlu dijelaskan.

Di bangku taman, senja menyisakan cahaya.

“Aku takut salah lagi,” ucap Nisa pelan.

Ia menoleh. “Kalau kamu jatuh, aku pegang.”

“Kalau aku menyebalkan?”

“Aku ingat alasan kenapa aku memilih.”

Nisa mengangguk, matanya hangat.

Doa-doa yang Sama

Gacor Lampu4d.“Doa kamu apa?” tanya Nisa suatu malam.

“Biar aku tetap sabar,” jawabnya.

“Doaku,” kata Nisa, “biar aku tetap jujur.”

“Kita cocok,” katanya sambil tertawa kecil.

Gaun tergantung rapi.

“Kalau aku gemetar?” pesan Nisa.

Pegang aku.

“Kalau kamu lupa napas?”

Aku ingatkan.

Nisa menutup ponsel, memeluk bantal dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.

Menunggu dengan Tenang

Rtp Lampu4d.Menunggu kini terasa manis.

“Terima kasih sudah menunggu,” kata Nisa.

“Terima kasih sudah memilih,” jawabnya.

Di antara rindu yang dijaga dan dialog kecil yang tulus, Nisa tahu—ia sedang melangkah pulang.

Sore itu, Nisa membaca pesan singkat yang datang tanpa emoji, tanpa kata tambahan.

Aku pulang agak malam.

Tak biasanya sesingkat itu.

Nisa menatap layar lebih lama dari seharusnya. Ia mengetik balasan, lalu menghapus. Mengetik lagi.

Oh. Sama siapa?

Pesan itu terkirim. Setelahnya, sunyi.

Waktu berjalan lambat. Nisa mencoba sibuk, tapi pikirannya berisik.

Kenapa jawabannya lama? Apa aku terlalu posesif?

Ia menghela napas. Rindu yang dijaga mendadak berubah jadi gelisah kecil.

Maaf kalau aku kepikiran, tulis Nisa, lalu berhenti sebelum menekan kirim.

Telepon yang Terangkat

Login Lampu4d.Ponsel bergetar. Nama itu muncul.

“Nisa,” suaranya terdengar pelan, sedikit lelah. “Maaf, tadi rapatnya molor.”

“Oh,” jawab Nisa lirih. “Aku kira…”

“Kira apa?”

Nisa diam sejenak. “Aku cuma… takut kamu berubah.”

Di seberang sana, ia menarik napas.

“Aku nggak ke mana-mana,” katanya lembut. “Kalau aku berubah, aku akan bilang. Tapi ini cuma kerja.”

“Aku nggak marah,” lanjutnya. “Aku cuma ingin kamu bilang kalau lagi kepikiran.”

Nisa menggigit bibirnya. “Aku belajar jujur, tapi kadang masih takut.”

“Takut itu boleh,” katanya. “Asal jangan dipendam sendirian.”

Sunyi di antara mereka terasa berbeda—lebih hangat.


                                                                             -


 LINK CUAN ANTIRUNGKAD




 

Komentar