kisah cinta di tempat kerja yang berakhir dengan perpisahan.

 

LAMPU4D.Di lantai tujuh gedung kaca itu, pagi selalu dimulai dengan suara mesin kopi dan langkah tergesa-gesa para karyawan yang mengejar waktu.

Arga sudah bekerja di sana hampir lima tahun. Hidupnya rapi, teratur, dan sunyi. Ia datang tepat waktu, pulang tepat waktu, makan siang di meja kerja, dan jarang berbicara lebih dari yang perlu. Bagi Arga, kantor adalah tempat bekerja, bukan tempat berharap apa pun dari perasaan.

Sampai suatu Senin pagi, pintu lift terbuka, dan seorang perempuan berdiri di sana dengan map biru di dada, wajahnya tampak cemas menatap papan petunjuk lantai.

“Maaf, Mas… ruang HR di mana, ya?” tanyanya.

Suara itu lembut, sedikit bergetar.

Arga menunjuk koridor di sebelah kanan. “Belok sana, lurus sampai ujung.”

Perempuan itu tersenyum lega. “Terima kasih.”

Namanya Nara.

Hari-hari berikutnya, Arga mulai sering melihatnya. Duduk di meja dekat jendela, sibuk mengetik laporan, sesekali menggigit ujung pulpen saat berpikir. Mereka satu divisi.

Awalnya hubungan mereka murni profesional.

“Mas Arga, ini revisi data kemarin.”

“Terima kasih, Nara.”

Namun lambat laun, percakapan berkembang.

Tentang kopi yang terlalu pahit di pantry. Tentang atasan yang suka mengirim email tengah malam. Tentang mimpi Nara ingin melanjutkan kuliah, dan mimpi Arga ingin suatu hari berhenti dari dunia korporat.

Setiap hari, mereka mulai makan siang bersama.

Bukan karena rencana, melainkan karena kebetulan yang terlalu sering terjadi untuk disebut kebetulan.

Di tengah rutinitas kantor yang melelahkan, kehadiran Nara menjadi satu-satunya hal yang membuat Arga menunggu hari esok.

Hingga suatu sore, hujan turun deras dan listrik mati di seluruh gedung.

Mereka terjebak di ruang arsip, menunggu genset menyala.

Cahaya ponsel memantul di wajah Nara yang tampak lebih rapuh tanpa lampu kantor.

“Aneh ya,” kata Nara pelan, “aku lebih takut gelap di kantor daripada di rumah.”

Arga tersenyum kecil. “Karena di sini, semua orang terlihat kuat.”

Di keheningan itu, tanpa rencana, Arga berkata, “Aku merasa… akhir-akhir ini pulang ke rumah terasa lebih ringan sejak kenal kamu.”

Nara terdiam lama.

Lalu ia mengangguk. “Aku juga.”

Mereka tidak pernah resmi berpacaran dengan pernyataan besar. Hanya kesepakatan diam-diam bahwa mereka lebih dari sekadar rekan kerja.

Di kantor, mereka tetap profesional.

Tidak pernah bergandengan tangan. Tidak pernah bertukar pesan manis saat jam kerja. Tidak pernah memamerkan apa pun.

Cinta mereka hidup di luar jam kantor.

Di halte bus, di warung kopi kecil, di bangku taman saat senja.

Namun cinta di tempat kerja jarang tumbuh tanpa luka.

Proyek besar datang.

Tenggat waktu menumpuk.

Arga sering pulang larut. Nara sering menunggu sendirian.

Setiap kali Nara ingin mengeluh, ia menahan diri.

“Dia bekerja,” pikirnya. “Aku tidak boleh egois.”

Sementara Arga merasa semakin jauh dari Nara, namun tak tahu bagaimana mendekat tanpa mengorbankan karier yang telah ia bangun bertahun-tahun.

Masalah memuncak saat Arga dipromosikan menjadi manajer.

Ia menjadi atasan langsung Nara.

LAMPU4D.Hari pertama menjabat, Arga duduk di kursi baru dengan perasaan campur aduk: bangga, takut, dan bersalah.

Nara tersenyum memberi selamat.

Namun sejak hari itu, hubungan mereka berubah.

Di ruang rapat, Arga harus menegur Nara soal keterlambatan laporan.

Di depan tim, ia harus bersikap netral.

Nara mulai mendengar bisik-bisik.

“Dia naik cepat karena dekat sama manajer.”

Setiap pujian terasa seperti tuduhan. Setiap keberhasilan terasa palsu.

Di rumah, Nara menangis sendirian.

Ia mencintai Arga, tetapi merasa kehilangan harga diri.

Suatu malam, di kafe sepi dekat kantor, Nara akhirnya berkata, “Aku lelah merasa kecil hanya karena mencintaimu.”

Arga menatap cangkir kopinya lama.

“Aku tak pernah ingin kamu merasa seperti itu.”

“Tapi kenyataannya begitu.”

Mereka diam lama.

Cinta yang dulu hangat kini terasa berat.

“Apa kita masih bisa berjalan bersama tanpa saling melukai?” tanya Nara.

Arga tahu jawabannya, tapi terlalu takut mengucapkannya.

Seminggu kemudian, mereka bertemu lagi.

Tanpa air mata berlebihan.

Tanpa suara tinggi.

“Kita harus berhenti,” kata Nara pelan.

Arga mengangguk.

Bukan karena cinta mereka habis, tapi karena mereka tak sanggup lagi membayar harga dari cinta itu.

Hari-hari setelah perpisahan terasa aneh.

Mereka masih satu kantor.

Masih satu tim.

Masih duduk di ruang rapat yang sama.

Namun kini, mereka hanya saling menyapa seperlunya.

Tak ada lagi pesan malam.

Tak ada lagi tawa di halte.

Tak ada lagi mimpi yang dibagi berdua.

Beberapa bulan kemudian, Nara pindah ke perusahaan lain.

Hari terakhirnya, Arga mengantar sampai lift.

“Terima kasih sudah pernah membuat hari-hariku lebih berarti,” kata Arga.

Nara tersenyum. “Terima kasih sudah mengajarkanku bahwa cinta tidak selalu harus dimiliki.”

Lift tertutup.

LAMPU4D.Dan di lantai tujuh itu, Arga kembali sendiri.

Dengan satu pelajaran yang tak pernah ia temukan di buku manajemen mana pun:

Bahwa cinta di tempat kerja bisa tumbuh indah…

namun tidak selalu ditakdirkan untuk bertahan.



Komentar